MAJULAH BAYUNGKA RAYA!!


MAJULAH BAYUNGKA RAYA!
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Mengenai Saya

Foto saya
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
@bayungka

Rabu, 21 September 2011

Ode untuk Penjual Sayuran di Ujung Gang

MANAGEMENT CLASS (KULIAH MANAGEMENT)
Department of Management, college of economics of management
Bogor Agricultural University

Lectures Prof Dr. Ujang Sumarwan, Msc
ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

Session 4
Kuliah "Mengelola dalam Lingkungan Global"
Bayu Windiharto Putro - Department of Resource Environmental Economics - Bogor Agricultural University.


Kami berada di hari kamis pagi, kuliah pengantar manajemen. Tersusun atas semangat mahasiswa yang tidak sempat sarapan. Bukan untuk ketahanan pangan Negara di musim kemarau, hanya karena saya bangun lebih siang daripada mas penjual sayuran di ujung gang. Setiap pagi beliau menjadi artis, dikelilingi ibu-ibu yang menunggunya sejak subuh tadi. Hanya untuk memikirkan bagaimana uang yang dibawa oleh ibu-ibu itu ditukar dengan berbagai macam sayuran. Mungkin lain kali Aku mencoba menukarkan sepatu bolaku dengan sayuranya. Tapi pasti dia tidak mau, karena dia lebih suka olahraga perahu naga sepertinya.

Pukul 07.00 waktu pemerintahan pusat Indonesia, Pak Ujang sudah standby menunggu jamaah-jamaah kuliah paginya di kelas.Kami yang kalah cepat dating dengan beliau haruslah sadar diri, dengan menandatangani kertas putih yang ada di depan pintu. Itulah disiplin, disiplin bukan makian atau cacian. Disiplin bukan kekerasan. Disiplin adalah komitmen. Seperti bagaimana aku komitmen mendukung Arsenal yang kalah 3 kali berturut-turut di pentas liga primer Inggris. Mengenai Arsenal, kau harus tahu! Arsene Wenger adalah manajer. Bukan pelatih. Dia membuat pemain, bukan membeli pemain mahal. Itu yang kusuka dari dia. Manajer sejati.

Kuliah pagi hari itu mengenai mengelola dalam lingkungan global. Biar kami mampu menggambarkan berbagai aliansi dagang regional. Untuk member tahu kepada mas penjual sayuran diujung gang, bahwa dia akan mampu menjual sayurannya ke Ethiopia. Dia akan menjadi artis go International. Tidak hanya menjadi artis bagi ibu-ibu Bogor, Namun juga ibu-ibu Ethiopia.

Sadarnya pagi itu bahwa kami tidak hidup sendiri. “You’ll never walk alone” kata fans Liverpool. Kita punya saudara di Djibouti, Aljazair, Nepal, atau Moroko. Seperti Beijing dan Tokyo yang menganggap kita adalah pasar, maka kita juga harus membuat Shanghai,Seoul, Vientiene, Manilla, atau Las Vegas adalah pasar kita juga. Kita jual oksigen kita. Atau kita ekspor batu bata ke mereka dengan bahan baku lumpur lapindo.

Ketika berbicara mengenai perdagangan global, Saya tak bisa lepas dari New York, Beijing, Kyoto, atau Bangkok yang menginvasi habis-habisan orang-orang kita untuk memakai mesin mereka, memakan buah mereka, atau sekedar membeli kapas-kapas mereka. Mereka cukup kuat. Dengan pola pikir perdagangan global, kebijakan negara yang mendukung. Orang-orang kita hanya terlalu menikmati lagu dari band “EFEK RUMAH KACA” yang berlirik “KITA BELANJA TERUS SAMPAI MATI”.

Potensi Sumber daya manusia dan alam kita sangatlah besar. Namun kita masih tertinggal bung! . Yang kami takutkan adalah benar adanya tentang ramalan kutukan sumber daya dalam mata kuliah Ekonomi Sumberdaya. Kita terlena dengan sumberdaya kita yang melimpah, konsumtif.
Hanya beberapa perusahaan saja yang berani menghajar pasar Internasional. Perusahaan Negara yang tiap hari transportasinya berjalan mengelilingi Pulau Jawa dengan dipenuhi mobilitas orang-orang pun mengaku dirinya defisit.Bahkan beberapa perusahaan Negara kita justru menjadi milik negaranya Noh Alamsyah atau negaranya Safee Sali.

Kuajukan pertanyaan kepada Pak Ujang tentang hubungan antara politik dengan bisnis Internasional, Yah jawaban beliau seperti yang saya fikirkan. Orang-orang terhormat kita masih kalah dengan intervensi negaranya Shunsuke Nakamura, Dong Fang Zhou atau negaranya Captain America. Politik memang penting bagi kemajuan bisnis global negara Gathotkaca ini. Namun kami yakin masih ada celah dan harapan untuk maju. Hanya kita yang punya sumberdaya alam melimpah. Washington tidak punya banyak pohon. Manchester tidak punya cukup banyak kayu. Alangkah baiknya jika kita melihat teori ekonomi. Barang akan mahal harganya jika jumlahnya sedikit dan banyak permintaan. Tentu kita bisa menentukan harga setinggi-tingginya, “Hahahaha”. Begitu mudahnya saya bicara. Seperti saya adalah Obama, Ahmadinnejad atau Hitler saja. Kita hanya Condolleza Rice yang patuh pada Obama.

Semoga saja paparan-paparan pesimistisku di atas hanyalah fabel yang banyak dibumbui majas hiperbola dan metafora. Semoga saja hanya karena aku terlalu sering melihat “BOX OFFICE”. Terlalu sering melihat film-film negara adidaya yang begitu canggih dan kuat yang mencengkeram negara-negara miskin dan berkembang. Majulah Indonesia Raya. Seperti yang dinyanyikan kakek kita pada kongres pemuda 1928. “Bangunlah Jiwanya Bangunlah Raganya untuk Indonesia Raya”. Dan semoga akan benar adanya bahwa mas penjual sayuran di ujung gang bisa menjual sayuranya sampai Ethiopia.