MAJULAH BAYUNGKA RAYA!!


MAJULAH BAYUNGKA RAYA!
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Mengenai Saya

Foto saya
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
@bayungka

Senin, 02 Juli 2012

Hai Fat, (Narimo)


Hai Fat,

Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu.

Sejak kelas dua SD, kakakmu ini sudah terbiasa mengendarai sepeda untuk pulang sekolah. Sialnya, waktu itu rantai sepedaku putus ditengah jalan. Karena ini terjadi siang hari dan di tengah jalan yang sepi. Tak ada bengkel sepeda yang dekat. Kalaupun ada itu hanya impian bagi anak kelas dua SD yang hanya punya uang saku 500 rupiah.

Apa yang dilakukan anak kelas dua SD dengan sepeda kecil dan rantai nya yang putus di jalanan sepi?  . Ketahuilah Fat. Saat itu, anak kelas dua SD masih jauh angan-angan dari memiliki ponsel atau memiliki twitter.  Jika kau harap aku harus menelfon bapak untuk mendapat pertolongan,  atau meminta bantuan kepada followersmu, saya kira itu tidak mungkin terjadi.

Saat fatamorgana dan panas mulai mempengaruhi akal sehat seorang bocah 7 tahun yang tertimpa musibah di jalanan panas dan sepi, semuanya terasa sangat samar. Ketika aku  mulai berteriak-teriak menyebut nama kakak laki-laki kita yang paling tua, Saya kira dia tidak akan mendengarnya. Karena dia masih sekolah. Dan sekolahnya lebih jauh dari sekolahku.

Lama-lama aku putus asa, dan aku mulai menendang-nendang sepedaku. Tulang keringku pun berdarah. Ketika aku melihat darah di kaki kananku, teriakan pun menjadi lebih keras. Tapi tetap saja aku terus menendang-nendang sepeda dan darah keluar lebih banyak dari sebelumnya. Sampai lama-kelamaan tendanganku melemah, dan kali ini aku mulai duduk tak berdaya di samping sepeda.

Aku meringis melihat kakiku berdarah dan rantai sepeda yang masih putus. Lalu aku mulai menyerah. Aku tak lagi berteriak memanggil kakak. Aku tak lagi menendang-nendang sepeda. Aku hanya duduk disamping sepeda, dibawah terik matahari. Di jalanan yang panas.

Kemudian, beberapa saat kemudian. Aku merasakan angin tiba-tiba berhembus sejuk dan tenang. Aku merasakan cahaya matahari tiba-tiba menjadi hangat dan nyaman. Padahal, sebelum-sebelumnya angin juga  berhembus tenang seperti sekarang. Tetapi dari tadi aku hanya terobsesi dengan menyambungnya rantai sepedaku yang putus hingga aku bisa pulang dengan cepat. Sampai-sampai sebelum-sebelumnya aku tak bisa merasakan kesejukan angin yang berhembus.  Aku hanya terobsesi pada sepeda yang semoga tiba-tiba tak rusak lagi.

Fat,

Ternyata ketika aku lebih memilih untuk menerima berjalan kaki berkilometer untuk sampai rumah daripada memaki-maki takdir, aku akan lebih tenang. 

Ketika aku lebih memilih berjalan sangat jauh dan menikmati panasnya matahari daripada harus berteriak-teriak meminta pertolongan, aku justru merasakan hangatnya matahari.

Fat..,

Mengharapkan pertolongan memang masuk akal. Tetapi ketika pertolongan itu tidak terjadi saat itu juga, hanya dengan menerima keadaan dan berhenti berharap, aku akan merasakan kedamaian.

Hai Fat…, Ketika banyak cara yang tak bisa membuat kita menemukan kedamaian, Justru kita akan menemukannya setelah kita mengalami masalah.