MAJULAH BAYUNGKA RAYA!!


MAJULAH BAYUNGKA RAYA!
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Mengenai Saya

Foto saya
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
@bayungka

Kamis, 06 Oktober 2011

Atas Nama Pendosa


Itu disaat kami mahasiswa spesialis pembunuh liburan harus berada di Dramaga. Kawasan elit (empang lele ikut tinggal) sekitar kampus IPB Sarjana. Kami menyukainya karena kawasan yang sungguh istimewa ini. Pohon-pohon masih tenang berdiri disamping modernisasi. Angkot-angkot masih tenang berbaris di jalan Babakan Raya, atau truk ayam dengan bau khasnya bisa berjejer nikmat dengan mobil F 1PB. Apalagi kawasan ini juga memiliki seribu bahasa, selain sunda, jawa, batak, Sulawesi, jepang, inggris, timur, aceh, melayu, sampai bahasa biner.  Juga memiliki pilot ojek lulusan balap yang sangat gesit “demi pelanggan a’”.

 Kami memiliki kebiasaan berkumpul dijalanan pada pagi hari atau sore hari. Berkumpul dengan mobil, motor, angkot, sepeda, bus, truk tinja, sampai truk TNI pun ada. Kami memang gemar berkumpul di jalan raya Dramaga, sambil bermain music klakson dan mesin, menikmati asap kendaraan yang wangi itu. Yah, itu olahraga pagi dan sore, itung-itung menjalin ukhuwah macetiyah bersama-sama.

Aku sedang berboncengan dengan seorang kawan yang sepertinya lupa  akan rasanya hidup di tengah-tengah kata ‘Jancuk’. “Jancuk itu artinya akrab bay,”. Kalo ketemu Pak Ustadz bilanglah “Jancuk”. “biar akrab”. Yah, setengah percaya atau tidak. Meragukan.

Kami berniat melepas lelah setelah bercumbu dengan FISIKA sesiangan itu.. ‘FISIKA’ Semacam nama perserikatan sepakbola yang jarang tampil di televisi. Yah, maulah. Itu karena  tadi dia mau kusuap 50 ribu untuk mencicipi air empang di depan kontrakan. “Cuma pengen tau bagaimana rasanya, kalo enak kan bisa kita jual berliter-liter”. Kalo kita banyak duit kan menghebohkan. bisa bikin es doger sendiri, bikin nasi goreng sendiri, bikin helipad di samping gymnasium kampus, untuk mendarat helicopter yang kami pakai untuk menyebar duit. “Biar deflasi ya? “ , “Iya gentian atuh, pemerintah yang inflasi, kita yang mendeflasikan”. 

Dia mahasiswa yang paling nyambung kuajak berbahasa jawa tiap hari senin (karena hari senin adalah hari berbahasa jawa bagi Baungka Raya). Sebut saja namanya Bunga –red.  Mungkin kalo dia membaca tulisan ini akan protes, kenapa harus bunga? Kenapa tidak ‘scheqhtlzxc’ biar keren seperti nama orang cekoslovakia? Kenapa tidak ‘Q iNgIn DcNta’ seperti nama keren di facebook itu? Atau tidak si ‘Franx’ biar keren seperti bocah boyband? .Semoga saja dia menyetujuinya kusebut ‘Bunga’. Walaupun sedikit flamboyant, tidak! Sepertinya tak cocok, dia gahar!

Oke sebut saja dia Manggala. (ketahuilah, demi kipas angin yang setiap pagi membangunkanku dengan rasa dinginnya, saya sudah meminta izin kepada dia sebelum menulis ini).

Kira-kira ketika acara Box office sudah mulai di televisi televise Indonesia, kami sampai ke tempat tujuan. Kau harus tahu, dia hebat bermain billiard. Ibarat pemain basket, dia mirip Kelly Purwanto. Tak terduga !!!         Maka kuputuskan untuk menyerap semua ilmunya kala itu. Ibarat Pemain sepakbola, dia maradonna dan aku messinya. Ingin ku mendapat titisan darah billiard nya. Tapi tidak, sepertinya darah Manggala bukanlah B. Kita hanya sama-sama tertarik dengan Fauna. Walaupun dia bisa akrab dengan semua jenis spesies  apapun (kecuali kecoa). Bahkan dia pernah membawa ular yang ditemukan disamping kontrakanya ke dalam kelas, WOW! “Buat temen bay, Lucu sih!”.

Ketika kira2 3600 menit X 2 kami bermain, (sengaja tak kuceritakan serunya permainan kami, kau taulah aku hanya memasukkan bola nomor 9 setiap bertanding). Billiard itu seperti gundu ! Aku yang ketika Sekolah Dasar selalu kalah bermain gundu dan hanya bisa membeli dari temanku, kubeli gunduku sendiri yang telah berpindah tangan ke mereka karena kepengecutanku di dunia pergunduan. Mengenaskan. Memang bodohnya aku yang tak berkegunduan. Gundu memang permainan yang sangat susah. Mungkin kedua tersusah setelah menaikkan layang-layang. Bagi layang-layang, aku hanya dianggapnya seorang penikmat atraksinya, tak lebih dari sekedar sebagai pesuruh temanku untuk memegangkan layang-layang sejauh mungkin sebelum mereka menerbangkannya. Mungkin mereka pilot, dan aku petugas bandara. Pecundang ! ingin kuulangi masa itu, dimana aku tak mau tertulis di sejarah sebagai pecundang. Tapia pa daya, sekarangpun aku tak bisa menerbangkan kertas kotak itu.
Kamipun berencana pulang ke kontrakan masing-masing, dan aku yang sudah dinantikan oleh kasur dan sprei ‘Amerika’ yang kutinggal seharian. Kenapa bendera Amerika? Karena tiap malam kubayangkan menjajah negara adikuasa itu. Walaupun hanya benderanya. Aku mengerti apa yang kau rasakan sur kasur! Kau pasti ingin kutiduri dengan gaya pogo atau skank. Atau sedikit moshing untuk mengempeskanmu yang sudah kempes.

Di perjalanan pulang, Ketika aku asyik memandang tulisan baliho besar di Jalan Padjajaran. Pertandingan Bogor Raya vs Persema, tapi kenapa gambarnya Irfan Bachdim Persema itu? Yah kau harus taulah. Keganthengan muka nya menggeser posisi Ari Wibowo dalam sinetron tersanjung 1, sinetron yang pernah ditonton si Ibu samapi Tersanjung 6 itu. Kemaren, Ibu-ibu gang sebelah pun lebih suka menonton liga Indonesia daripada Sinetron yang judulnya selalu memakai nama orang itu. “Gantheng pisan a’ , irpan teh mirip sama suami urang waktu masih muda”.  

Setengah perjalanan lagi,Si Manggala mengajakku mencari Rumah Sakit 24 jam, entah apa yang difikirkannya kala itu. Apakah dia ingin bilang ‘jancuk’ kepada perawat cantik-cantik. Biar akrab mungkin dengan jancuk. Oh, tidak? Dia hanya ingin mencari resep dokter, untuk seorang wanita di kampus. Begitu setianya dia, sampai harus mencarikan bukti bahwa dia benar-benar berobat malam itu. Bahwa si Manggala tidak pergi billiard bersamaku. Di balik laki-laki gahar, terdapat wanita gahar pula sepertinya.

“Berapa ratus ribu yang akan kau keluarkan untuk kejeniusanmu itu cuk?”

“Ayolah Bay, “, katanya.

Aku tau hari itu adalah hari-hari yang terasa paling lama bagi kami mahasiswa perantau. seperti  seakan-akan seorang penjelajah waktu dari abad 67 yang berani memperlambat jam, memperlambat hari, memperlambat kiriman orangtua kami. Dan berimplikasi kepada memperlambatnya denyut jantung kami.

“Atuh kenapa kau tak anggap saja aku dokter? Tinggal kucoret2 diatas kertas, beres. Jadilah resep”. Mungkin seingatku kala itu dia ragu padaku. Dia ragu kalau tiba-tiba yang kutulis bukan resep dokter, melainkan resep telor dadar semrawut ala bayungka.

“Obatnya?” tanyanya.

“adalah obat sisa sakit kepalaku berbulan-bulan yang lalu, kalaupun kau harus minum didepan wanitamu, masih enak kok”. Jawabku dengan gaya mirip Mr.google. Tau semua yang kau Tanya.

Masalah terjadi dengan plastik pembungkus obat berlabelkan rumah sakit, Kami tak memilikinya, entah kenapa tiba-tiba motorku memarkirkan diri di sebuah UGD kecil di kawasan Bogor Barat. Sepertinya mesin motor bututku seirama dengan otak kiriku. “Hahahahay”. Manggala pun tau apa yang kumaksud. Yah, seperti batman dan robin, spongebob dan Patrick. Atau Safa dan Marwah dalam serial sinetron yang ditunggu bapak-bapak sehabis maghrib.

Ku hampiri mas2 di samping meja tamu.
“Mas, ini temen saya di kontrakan sakit migrain, dia tidak bisa keluar rumah, kalau untuk membeli obatnya doang bisa kan?” basa basi.
“Maaf dek tidak bisa, pasiennya harus kesini”, Jawab mas2.
“Aduh, kalo obat ‘pcenomilatin’ ada ga?”. Sumpah aku dan manggala menahan ketawa, karena baru saja aku asal menyebut nama apapun yang mirip dengan obat. Dengan harapan mas2 itu masuk kedalam ruangan untuk menanyakan kepada teman yang lain. Kenapa harus pcenomilatin? Kenapa tak sekalian kutanyakan ‘ular bakar’, atau ‘oli mesin’?

Yah, benar sekali ketika mas-mas berbaju putih itu masuk menghampiri temanya yang sedang menonton acara tv di ruang sebelah, si Manggala dengan gesitnya langsung mengambil beberapa plastic pembungkus obat di meja tamu. (maafkan kami Tuhan, maafkan kami mas-mas, kami menyesal telah membuatmu tertipu. Kami menyesal membuatmu kebingungan dengan nama obat yang kusebutkan tadi. Kuharap itu bukan obat untuk borok kaki. dan kami menyesal harus memindah tugaskan plastik pembungkus obat itu, percayalah, ini atas nama cinta!!!). Percayalah mas-mas muda berhati mulia, plastic itu akan bahagia bersama kami. Kalaupun plastic itu rindu dengan kau, bolehlah suatu waktu kuantarkan dia ke meja kerjamu untuk melihatmu lagi. Mungkin suatu saat akan kami akan meminta maaf kepadamu mas, atau ketika kau membaca ini, maafkanlah kami.

“Tidak ada dek”, dia dating dengan fikiran bingung.

Kami pun pamit dengan membawa dosa besar, dosa yang mungkin lebih besar daripada korupsi jika diadili di pengadilan Indonesia. Semoga kau tidak seperti pelapor kakek2 yang mengambil coklat di kebun perusahaan besar itu. Tidak seperti hakim-hakim yang maha adil itu. Semoga.Akhirnya atas nama cinta Manggala, kami pun melanjutkan perjalanan dengan terbahak-bahak. Pendosalah kami dengan segala dosa.

Bogor,  dengan ditemani symphony no 40 in G minor karya Mozart. Atas nama rakyat Bayungka Raya.