MAJULAH BAYUNGKA RAYA!!


MAJULAH BAYUNGKA RAYA!
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Mengenai Saya

Foto saya
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
@bayungka

Jumat, 26 Agustus 2011

Sekolah untuk Berkembang biak

Empat tahun lalu. Di sebuah angkringan. Situasi yang sangat berbeda dari tahun 2011 ini. Aku masih setia dengan putih abu-abu. Aku masih sering kala itu untuk sekedar makan rujak di depan sekolah. Atau membeli siomay dan hanya memandanginya selama satu jam. Siomay itu indah, sayang untuk dimakan. Fikirku kala itu. Bodoh memang. Aku masih sering membeli koran dan mengoleksinya dikamar untuk memenuhi meja belajarku daripada buku-buku pelajaran. Aku yang kala itu masih suka datang telat ke sekolah karena ingin ketemu bapak guru di gerbang sekolah. Entah kenapa aku tertarik ketemunya setiap hari. Mungkin karena dia menyuruhku untuk tidak telat esok hari. Aku jadi penasaran jika tidak telat. Aku takut bila besok tidak telat maka tidak bisa menuntut motor bututku dan dilihat oleh banyak siswa lewat jendela kelas masing-masing.

Seringkali sepulang sekolah menuju angkringan, walau hanya sekedar memakan tahu kemaren sore yang istimewa sekali rasanya hingga aku kecanduan. Atau sekedar mendengar ocehan orang-orang yang sudah merasakan pahitnya hidup, atau sekedar nongkrong untuk berharap bertemu pak presiden yang menyamar menjadi tukang becak. Sepertinya tidak pernah aku melihatnya.

Keinginanku untuk bertemu Bapak Presiden sia-sia, walaupun terbayar dengan bertemu seorang sukses dengan kesuksesan di matanya. Masih muda dia. Hal yang kusuka dari orang-orang muda sukses adalah keramahanya memberiku rahasianya. Mungkin karena muka ku yang polos. Atau karena mereka menganggapku bodoh sehingga dia yakin aku akan melupakan kerahasiaanya.

Dia lulusan terbaik SD-SMP-SMA-Perguruan Tinggi. Selalu rangking satu, lulus dengan IPK sangat memuaskan. Sesuai dengan cita-cita guru-guru Indonesia, para orangtua Indonesia. Para wanita-wanita Indonesia.

"Kenapa mas mau sekolah keras?"
"Untuk membahagiakan ortu dek", jawabnya.
"Kok ?".
"Biar punya uang banyak, sukses, menaikkan haji orangtua, membelikan mobil orangtua, membuat bahagia orangtua", jawabnya lagi.

Sekarang setelah 4 tahun tidak bertemunya lagi, semoga cita-citanya tercapai tentang orangtua. Wacananya benar-benar terlaksana. Bukan menjadi wacana surat kabar harian.
Dan semoga dia bisa melebihkan cinta orangtuanya daripada pacarnya yang ingin segera disuntungnya dan berkembangbiak bersamanya.

Dan semoga argumenku tentang "sekolah=berkembangbiak itu salah".
Semoga pendapatku tentang sekolah hanya untuk mencari ilmu, mencari pekerjaan, berebut uang dan bermuara kepada reproduksi itu salah.
Karena orangtua menginginkan kami untuk berguna bagi orang lain, bahagia orangtua bukan karena uang. Aku takut kalau kuberi orangtua dengan uang sama saja aku seperti memberi uang cewek matre yang mendekatiku.
Mereka hanya butuh perhatian ketika tua. Doa ketika tiada.

Sragen, dengan keadaan bangun tidur dipeluk bapak. dan kerinduan suapan ibu.

Yang disiplin Yang takut

Pagi yang dingin. Dengan ditemani kemalasan. Ajaib aku yang pemolor, tiba-tiba harus bernostalgia dengan jam weker merah tua di sebelah kasur. Pukul 05.30 waktu bayungka raya. Sangat sibuk kala itu. Mungkin melebihi kesibukan Mahmoud Ahmadinnejad yang akan menyiapkan pidato tentang nuklirnya. Atau mungkin lebih sibuk dari Pak Budi (pahlawan kelaparan kami yang setia dengan gerobak baksonya setiap hari di samping pos satpam IPB). Aku membayangkan sebagai seorang peter parker yang harus tidur malam setelah menyelamatkan kota dari Goblin, dan harus bangun pagi karena mengintip marry jane dari jendela kamar.

Dalam rangka Masa Perkenalan Departemen dan Fakultas yang terhormat. Untuk menghormati yang mulia senior beserta jajarannya karena telah menyapekkan diri demi kami, mahasiswa baru departemen yang baru saja lulus TPB (kuliah semester 1 dan 2).

"Kalian tidak boleh telat!". begitulah kira-kira seruan yang mulia senior. Yah di negara tetangga, INDONESIA, tradisi orientasi adalah hal penting untuk sikap sempurna penghormatan senior. Waktu kecil pernah aku merengek ingin sekolah di Korea Selatan karena malas mengikuti orientasi. Apa daya waktu itu aku tidak paham bahasa korea, karena memang waktu itu belum ada boyband korea ataupun sinetron penuh bercinta dari korea di malam hari. Tapi kuurungkan niat itu setelah mendapat alasan dari guru-guruku bahwa orientasi untuk membentuk karakter generasi muda yang tangguh. hah? iyakah? pemuda yang tangguh dari hinaan dan cacian kah fikirku? sudahlah. ternyata bapak juga pernah merasakannya, bahkan pada zaman beliau biasa dengan tepukan tangan di wajah.

Pagi-pagi aku sudah berada di lapangan, dikelilingi senior yang terhormat.
"kalian sebagai mahasiswa harus disiplin".
"iya kak, kami harus disiplin", sahut orang disebelahku dengan muka-muka ingin diperhatikan. Ingin dikenal, ingin diajak bergabung dengan organisasinya.

Aku ingin tertawa melihatnya. Tapi apa daya, menurut mereka, tersenyum saja bukan suatu kedisplinan. Definisi disitu kedisiplinan adalah kaku, mengikuti aturan yang dibuat sepihak, mata fokus terus kedepan, dan tidak boleh dengan istirahat ditempat. Harus selalu siap. Mungkin disiplin adalah orang-orang kuat fikirki. Bagaimana dengan temanku yang kurang beruntung fisiknya? kasian sekali jika dia dikotomi sebagai orang yang tidak disiplin.

Beberapa teman kuyakin bahwa mereka bangun pagi dan jalan kaki ke kampus bukan untuk kesadran. Tapi ketakutan kepada senior. Yang lebih memilih membentak daripada mendidik. Tapi aku betulkan jika menurutnya amarah adalah didikan. Untungnya orangtuaku bukanlah pendidik yang pemarah. Tapi pendidik yang pelogika.

Disiplin adalah ketakutan. Didikan adalah cacian. Bela negara adalah otot.

Tanpa mengurangi kemuliaan senior, kami ikhlas melakukannya demi tradisi. Atas nama tradisi. Dan mungkin suatu saat berguna ketika aku hidup di hutan dan mendapat bentakan dari tarzan, maka tidak akan takut lagi aku.

Terima kasih senior, karena kami memang harus dicaci. Hanya cacian yang bisa mengompakkan kami. Kehalusan tidaklah mampu bagi kami yang tolol ini.
karena amarah adalah kunci kesuksesan. Kata laptop didepanku.

Walaupun argumen saya bahwa "jika kita memilih jalan makian untuk menyelesaikan masalah, cepat atau lambat akan jatuhlah harga diri kita".
Tapi itu tidak berlaku kali ini. Aku memang munafik.
"berbuat baiklah kepada bawahan kerjamu, bukan tidak mungkin besok pagi dia akan menjadi bos mu".




Minggu, 21 Agustus 2011

Indonesiawi

MANAGEMENT CLASS (KULIAH MANAGEMENT)
Department of Management, college of economics of management
Bogor Agricultural University

Lectures Prof Dr. Ujang Sumarwan, Msc
ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

SESSION 1
INDONESIAWI
Bayu Windiharto Putro - Department of Resource Environmental Economics - Bogor Agricultural University.

Aku berada di ruang kuliah pengantar manajemen. Pagi-pagi sekali, teringat ketika masih sebagai siswa. Beberapa guruku dulu mengatakan agar kita disiplin. Yah, mungkin menurut kami disiplin adalah pagi. Walaupun orang luar negeri yang mengatakan dirinya pagi justru bangun tidak terlalu pagi seperti kami. Indonesiawi.

Kebetulan mata kuliah pengamen (pengantar manajemen) adalah minor yang aku ambil. Disamping mayor Ekonomi Sumberdaya Lingkungan. "minimal biar bisa mengatur istri dan anak-anakku kelak, semoga bisa mengatur yang mengatur negara ini", kataku kepada teman minum secangkir kopi dulu.

Kuliah pagi itu dengan dosen kami, bapak Ujang. Luar biasa beliau, mampu membuat saya yang malas ini menjadi rajin. Saya yang pengantuk ini menjadi semangat kuliah. Mungkin beliau memiliki semacam panah pasopati milik Arjuna dalam cerita Arjuna Wiwaha, ah itu hanya khayalanku. Bicaranya sangat elegan, tapi santai. Mencerminkan seorang intelektual yang banyak sekali pengalaman.

Kuliah mulai membahas tentang ilmu manajemen. Namun yang membuat aku kelihatan sangat bodoh adalah ketika beliau membicarakan pengalaman dan aplikasi ilmu manajemennya. Aku yang membanggakan diri di jejaring sosial ketika bepergian beratus kilometer, tidak ada artinya ketika beliau mengatakan sering ke luar negeri.
"WOW", bagi kami mayoritas rakyat nusantara. kata "luar negeri" seperti sangat sakral, mimpi, imajinasi, ataupun misi. Walaupun banyak yang pulang dari luar negeri hidupnya menyesal setelah berlabel tenaga kerja ilegal. Namun bagi kami, luar negeri adalah impian, harga untuk menaikkan harga diri. Bagi rakyat negara lain mungkin hal itu sangat mudah. Bisa dikatakan mereka buang air kecil pun keluar negeri. Itulah kami, INDONESIAWI.

Hanya sekitar lima persen mahasiswa dikelas minor itu yang memiliki paspor. Paspor pun bagi kebanyakan kami masih termasuk hal mewah. Naik pesawat terbang bagi sebagian juga masih dibilang angan-angan. Itulah kami, INDONESIAWI.
Walaupun pemerintah sudah menyetujui perdagangan global, tuntutan dunia kerja menjadi global. Namun bagi kami rakyat Indonesia masih banyak yang belum siap, masih malu akan luar negeri. INDONESIAWI.

Fikiran itu muncul ketika aku duduk di Sekolah Dasar. Ketika melihat teman-temanku bersorak ria setelah melihat bule. Seakan mereka melihat malaikat yang turun dari planet merkurius. Begitu kagum melihat sosok manusia yang lebih tinggi, putih, dan pirang. Kadang-kadang aku berfikir kami hidup di tengah hutan yang terisolasi dengan manusia lain. Tak heran begitu menghambanya kami dengan luar negeri, menganggap budaya nusantara adalah kampung. INDONESIAWI. Terkadang ketika aku melihat tim sepakbola kita bertanding di tingkat dunia yang kewalahan menghadapi tim negara lain karena ke-Indonesiawian kita, minder dengan bule. Semoga saja fikiranku salah. Pejuang kita tidak pernah gentar melawan penjajah bung!

Setelah keluar dari ruang kuliah itu dengan disertai senyuman bapak Ujang, dalam hatiku berkata. Nusantara harus lebih maju dari negara lain. Agar cucuku kelak dikagumi oleh bangsa-bangsa lain. Agar bangsa lain berbondong-bondong berkiblat ke bangsa besar ini. Agar Patih Gajahmada tersenyum melihatnya. "Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya".