MAJULAH BAYUNGKA RAYA!!


MAJULAH BAYUNGKA RAYA!
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Mengenai Saya

Foto saya
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
@bayungka

Sabtu, 25 Juni 2011

kuliah malam via kereta

tanggal itu, 2011 tahun setelah masehi. Saya di malam hari, tersusun atas bau asap rokok, keringat manusia, obrolan pedagang kaki lima, dan suara kereta. Saya di halaman 19 sebuah buku berjudul "perjalanan hidup Jenderal Soedirman", dan dikuping sebelah kanan sebuah lagu karya tiga pop minimalis bernama "efek rumah kaca". Untuk memutilasi waktu fikirku. Perjalanan panjang menuju kampung halaman, Sragen.

Suasana tidak seperti biasanya di kereta bisnis, atau eksekutif yang sinis. Dipenuhi individualistis orang-orang. Tapi tidak malam itu. Kereta penuh sahabat, penuh ilmu, penuh subsidi dan toleransi. Perekonomian berputar bagi kami kaum realistis. Mikroekonomi. Pedagang air mineral, rokok, nasi rames, pecel, batik, musisi kereta, bahkan kyai dadakan.

Malam itu, disamping dan depan saya terpaku dengan gagahnya. Dua dosen dadakan yang baru saya kenal. Dosen tanpa gelar, tapi ilmunya lebih dalam dari sekedar gelar. Ya, mereka dua orang bapak-bapak dari kelapa gading dan cililitan dengan segudang ilmu yang ingin aku timba dari otak dan hati mereka.

Dengan mata kuliah "pengalaman hidup" dan "bisnis pengalaman". Satu bapak dari cililitan sangat bersemangat membagi ilmunya. Yang satu layaknya guru besar, dengan tampang galak tapi lembut. Tak ingin memberi tapi tak ingin.

Dimulai dengan sebatang rokok super yang dia hisap. Dia menunjuk dada dan kepala. Mungkin maksudnya hati dan akal. panjang lebar, seperti sinetron tersandung yang beribu-ribu episode dia ceritakan. Sesekali sang profesor menambahkan.
Kegagalan usahanya yang maju karena judi !
hanya karena judi ! dia hancur !
dan dia menyesal "kesempatan itu susah dicari dik !" katanya.
sang profesor menyahut "betul"

"penghen sukses lagi dik". "kaya dulu". "tapi zaman udah berubah, tantangannya udah ganti".
"emang bapak sekarang ga sukses?" tanyaku.
"sukses, mungkin. sukses bagiku, tapi bukan dengan pendapat mereka!". kata si bapak sambil menunjuk foto birokrat di surat kabar.

sedikit bingung sih. Nalar doktor pun susah juga menangkap pendapatnya.
"menurut elu, apa itu sukses?" tanyanya.
"bahagia pak". "walaupun jadi tukang siomay kalo aku bahagia berarti aku sukses" jawabku.

"nice!". " kalau saya sukses adalah ketika kita memiliki banyak waktu, berpikir dengan hati dan akal".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar