MAJULAH BAYUNGKA RAYA!!


MAJULAH BAYUNGKA RAYA!
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Mengenai Saya

Foto saya
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
@bayungka

Selasa, 11 Oktober 2011

Puisi tingkat tinggi

Kejadian ketika si Fatha pulang kerumah, capek katanya. Sekolah memang melelahkan, apalagi bagi anak kelas 3 sekolah dasar seperti dia. Yang seharusnya masih menikmati bermain dengan boneka teletubbies yang dibelikan oleh bapak, yang seharusnya ingin menaiki sepeda roda tiga mungilnya pemberian ibu, atau memutar kotak musik yang kuberikan. Mungkin juga sedang asyik menyusun puzzle "NEMO" pemberian kakak.

Mukanya berubah drastis seperti kurva supply ke demand. Seperti irfan bachdim yang tiba-tiba menjadi artis, seperti adi bing slamet yang tiba-tiba menyanyikan lagu anak-anak. Ah, tidak Bing Slamet hanya legenda anak-anak  dulu yang menua. Itu kata Ayah ketika dia menggendongku di sambil menginjak rumput depan rumah.

Fatha girang, "Mas nyampe kapan? kapan balik Bogor?". Itu kata-kata ritual yang dia ucapkan sambil mengelap peluh sisa-sisa papan tulis kelasnya setiap melihat aku pulang ke rumah. Seperti tidak ingin cepat-cepat ditinggal jauh oleh kakak-kakaknya yang hidup di perantauan.

Kulepaskan sepatu dan kaos kakinya sambil mencubit pipinya yang mirip bakpao spesial kacang hijau yang dijual di POM bensin jaman dulu.
"Siapa nama gurunya?"
"Nama teman sebangku?"
"Siapa lagi? siapa? siapa lagi"
Selalu kutanyakan itu setiap ketemu fatha, biar dia senyum. Biar dia menjawab sambil menunjuk-nunjuk jemarinya. Walaupun sebenarnya aku tau siapa guru dan teman-temannya. Maklum, pertanyaan itu sudah kutanyakan lebih dari 6666 ayat.

"Gimana tadi sekolahnya?"
"Di ajar sama pak Spiderman gak?"
"Diajarin caranya menempel di dinding gak?"
Skali lagi, kutanyakan hal itu agar dia tertawa. Agar dia sejenak melupakan membosankannya pelajaran sekolah dasar, yang pasti, agar aku mendapat kesempatan mencubit pipinya lagi.

"Tadi disuruh bikin puisi Mas!"
"Aku cuma dapat C". Kata Fatha.

Dia sedih sepertinya, teman-teman lainya dapat A atau B. Kuambil bukunya dari tas barbie merah jambu favoritnya. Dan inilah puisinya :

PUISI
karya fatha

Bapak pergi ke kantor naik mobil.
Ibuk pergi mengajar naik bus.
Mas andit pergi ke kantor naik pesawat.
Mas Bayu pergi kuliah naik senja utama (yang dimaksud dia adalah kereta, itu nama kerta solo-jakarta)
Fatha pergi ke sekolah naik boncengan Mbak Anna. 
Barbie ke sekolah naik Fatha (barbie  = maksud dia adalah tas merah jambunya).

Oh Fatha, jenius sekali puisimu. Puisi yang melebihi pemikiran anak Sekolah Dasar. Sayang sekali kau mendapat C. Andai gurumu tau, majas mu begitu indah, tak terfikirkan oleh teman-teman sebayamu atau guru-gurumu.

Sayang sekali, kau bersekolah di Indonesia, sekolah yang menganggap pintar itu matematika. Seni itu bodoh, Seni kata mereka hanya kemalasan.
Fatha, jangan bersedih. Nilai C mu itu hanya ketidak sampaian pola fikir guru mu. Kalau kau tau, puisi itu bukan matematika. Puisi itu tidak ada yang salah. Puisi itu kebenaran fikiran manusia.

Sabarlah Fatha, doakan kakakmu cepat lulus, dan cepat menyekolahkanmu di sekolah milik kakak sendiri. Sekolah yang mengajarimu untuk senang. Bukan sekolah yang menghambat kreatifitasmu. Bangsa ini butuh sastrawan besar. Tidak hanya pekerja perusahaan.
Sabarlah Fatha.

Bogor, dengan ditemani tugas komputasi sumber daya, dan manajemen.





































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar