MAJULAH BAYUNGKA RAYA!!


MAJULAH BAYUNGKA RAYA!
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Mengenai Saya

Foto saya
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
@bayungka

Jumat, 09 Maret 2012

Diskon Bakso


      Mirip oratioprodomo, bedanya bukan berpidato untuk kepentingan pribadi. Tapi menulis untuk kepentingan pribadi.  Tak apa, kata Wittgenstein bahasa adalah permainan, language game katanya.

Itu ketika entah kenapa seharian merasa mirip Joan Violet Robinson, ekonom dunia yang hidup di sekitar tahun 1903-1983. Mungkin karena satu hari itu otak terisi oleh ekonomi. Hanya aku tidak mengarang buku “The Economics of Imperfect Competition”, tapi menggambar hewan khas Kalimantan di buku tulis saat kuliah ekonomi sumberdaya lahan, pengantar ekonomi kelembagaan dan teori mikroekonomi II. Maafkan saya pak dosen bukannya saya malas, tapi saya rajin bermalasan.      
       
        Maaf, tadinya saya mencoba orietcabora, hanya bersembahyang dan bekerja. Sayangnya saya iri dengan john lennon, lionel messi, atau aa gym.  Mereka selalu bermain di setiap hidupnya. Oh, mungkin karena mereka menganggap pekerjaannya hanyalah kesenangan.
          
          Berbeda dengan saya yang merasa seperti eksaminandus setiap harinya. Saya hanya merasa kewajiban itu hal yang melelahkan.
                 
         Hari senin memang melelahkan, tetapi hari senin juga melegakan. Ya, melegakan kalau kuliah sudah usai. Dan dengan bangganya bisa keluar dari kelas menusuk orang-orang departemen lain yang masih kuliah. Berjalan menuju tempat parkir dan berlagak sok-sokan menjadi Russel di film UP. Apalagi ketika sepanjang jalan kampus – kost terbingkai gerobak cimol, es doger, gorengan, atau sup buah. Entah dukun dari mana yang mereka gunakan. Yang jelas, saya ibarat kutub selatan magnet yang tertarik ke mereka, tapi tidak dengan penjualnya. Ya, karena penjualnya laki-laki dan saya bukan homo!
               
         Sepertinya bakso memiliki medan magnet lebih kuat daripada cakue. Buktinya motor tiba-tiba berhenti menghampiri gerobak bakso. Sekali lagi, baksonya bukan penjualnya. Saya bukan gay!
                 
“Mas bakso satu, dibungkus ya. Bungkusnya pakai plastic saja. Jangan dikaretin merah. Karena itu punyanya nasi goreng pedas special”.
                 
“Iya mas, mas pasoepati?” tanyanya
               
 “Kenapa mas?” jawabku.

         Bingung. Entah kenapa aku mengira dia seperti Michel de Nostradamus, peramal hebat yang mempunyai kelebihan clairvoyance. Tapi tidak, dia sepertinya tidak terlihat seperti pria yang lahir di St, Remy, Kota kecil di perancis.

Oh, mungkin karena dia melihat nomor polisi motorku AD !
               
 “Berapa mas baksonya?” tanyaku lagi
               
 “Diskon mas, 3000 saja untuk mas. Spesial. Karena saya Aremania. Hahaha”.
                 
“Salam satu jiwa, sudah menjadi sahabat yang baik, salam buat kawan pasoepati!” katanya.

                Oh, bukan atas nama Nurdin atau Djohar. Beruntunglah saya sore itu. Bakso diskon! . Seandainya semua supporter Indonesia bersahabat baik, alangkah indahnya hidup ini. Jika semua supporter bersahabat, bayangkan berapa bakso, sate, Batagor, Bika ambon, Mpek-mpek, kerak telor diskon yang bisa saya nikmati setiap harinya. Jika semua supporter bersahabat, betapa banyaknya orang yang terhindar dari kelaparan hari ini.
               
           Sudahlah, ini bukan tulisan diskriminasi. Ini tulisan ajakan bersahabat bagi kita semua. Kita satu Indonesia. Selamat menghargai, semoga benar.
         
              Bayungka Raya, dengan membaca timeline, dan ingus yang keluar dari hidung, bukan mulut. Semoga esok hari jalanan sekitar kampus masih macet. Biar saya tau, siapa yang tidak sabaran, siapa yang bawel. Yah. Dia yang sering membunyikan klakson.
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar